Anakku Kejang Tanpa Demam Usia 6 Bulan

Mungkin kebanyakan orang lebih sering mendengar kejang yang terjadi bersamaan dengan demam atau banyak juga yang menyebutnya ‘step’. Namun kejang yang terjadi di anak ke-2 saya adalah kejang tanpa diikuti demam. Sejujurnya, nulis ini juga sambil deg-deg-an banget. Masih inget rasanya pas anakku kejang pagi itu. Sekitar jam 06.45 aku ngerasa dia kaya gelisah gitu. Udah bangun tapi kaya ga enak “ah eh ah eh” ga kaya biasa. Masih dalam dekapan aku, tiba-tiba aku merasa kok badannya kaya menggigil. Aku liat lagi baik-baik. OMG kenapa anakku? Ini kenapa? Matanya keatas. Tangannya keatas. Langsung bangunin suami, “Pop dia kenapaaaaaaa? Ke rumah sakit ayo ke rumah sakit cepet”, kataku sambil panik. Takut, panik, nangis sambil gendong anak. Buru-buru ke mobil sampai lupa pake sendal. Dan baru sadar pas nyampe UGD.

Kejangnya kurang dari 5 menit. Tapi aku ga ingat pasti berapa lama kejangnya. Kata suamiku sih cuma sebentar. Tapi abis kejang itu anakku tertidur lemes. Duh pas kejadian aku panik banget pas dia tidur, kirain pingsan atau udah ga ada hiks aku meraung-raung di mobil.

Sampai di UGD Hermina Bekasi anakku dicek berat badan, lalu direbahkan di tempat tidur, dicek saturasi oksigen, suhu tubuh, dan diperiksa dokter jaga. Pas diperiksa, saturasi oksigennya rendah sekitar 80-88 sehingga dokter kasih selang oksigen supaya kembali normal. Setelah itu, dokter jaga bilang harus diobservasi lagi kejangnya, saran untuk di rawat inap dulu atau ke poli anak. Nah, karena covid, banyak dokter ga praktek kan. Setelah diskusi sama dokter jaga, akhirnya kami pilih untuk ke RSIA Bunda karena pas di waktu tersebut ada dokter saraf anak yang sedang praktek yaitu dr. Herbowo Agung F Soetomenggolo, Sp.A(K). Langsung telepon RSIA Bunda supaya kami bisa ditungguin.

Kami menuju RSIA Bunda dengan ambulance karena kondisi anakku yang belum stabil. Saturasinya masih rendah.

Sampai di Bunda, kami langsung ke UGD. Transfer berkas dari petugas ambulance ke perawat dan dokter UGD. Setelah itu, dr. Herbowo memeriksa anak saya. Dari pemeriksaan fisik semua normal, perkembangannya pun sesuai dengan umur. Kecurigaan dr. Herbowo mengarah ke Sandifer Syndrome yang terjadi saat anak GERD (GastroEsophageal Reflux Disease) dan menyerupai kejadian kejang. Namun untuk memastikan diagnosa perlu dilakukan EEG dan pemeriksaan darah, eletrolit, urin, serta feses sehingga dr. Herbowo meminta kami untuk observasi selama 24 jam, sebaiknya di rawat inap di rumah sakit. Kamipun setuju. Selama dirawat inap, dokter yang menangani anak saya adalah dr. Markus Mualim, Sp.A dan konsultasi mengenai saraf nya ke dr. Herbowo, Sp.A(K).

Tindakan EEG (electroencephalography) bertujuan melihat aktivitas listrik otak atau gelombang otak. Nah dari hasil pembacaan EEG nanti bisa diliat apakah normal atau ada temuan gelombang kejang.

Fyi aja, saat saya berumur 4 tahun, saya pernah di EEG karena pernah kejang juga. Dan hasil EEG saya menunjukkan aktivitas otak yang ga normal alias ada gelombang kejang fokal kiri. Jadi harus minum obat 2,5 tahun. Dulu saya berobat ke Prof. dr. Sofyan Ismael, Sp.A (K) udah sepuh sekarang. Mau ketemu beliau udah sulit. Apalagi sekarang pas covid. Hampir semua dokter sepuh udah ga bisa praktek karena masuk usia rentan.

Oke lanjut cerita soal anak saya. Jadi anak saya dirawat di RSIA Bunda. Untuk melakukan pemeriksaan EEG, kita harus nyebrang ke RSU Bunda karena alat EEG nya ada disana. Pas dipasang alat EEG, namanya bayi dia merasa ga nyaman, jadinya ya nangis. Namun pas perekaman, anak saya harus tertidur. Biar tidur gimana? Sebelum EEG jangan sampe ketiduran dulu. Biarin aja diajak main dulu, dibecandain, pokoknya jangan tidur dulu, tahan biar dia tidurnya pas di EEG. Thanks God, anak saya masih ASI, ya tinggal sodorin aja, ga lama dia tertidur. Ocee EEG beres.. lanjut kami balik ke ruang rawat inap.

Ruang EEG RSU Bunda Menteng

Saat di kamar perawatan, sekitar pukul 18.30 dan 19.15 anak saya kembali kejang. Jadi total sehari itu dia kejang 3 kali. Tapi karena masih satu hari yang sama, maka dihitungnya 1 kali kejadian. Pas kejang saturasi oksigennya sangat rendah, sempat 30-40. Disitu saya takut sekali. Tuhan tolong anak saya. Ga tega liat bibirnya biru dan kejang kaya gitu. Semalaman saya cuma menangis. Saya liatin terus monitor yang menunjukkan saturasi oksigen dan denyut jantungnya.

Besoknya hasil pemeriksaan penunjang keluar, selain GERD (GastroEsophageal Reflux Disease) dan alergi susu sapi. Anak saya juga mengalami infeksi bakteri di pencernaannya. Jadi kejangnya bisa terjadi karena beberapa penyebab.

Sementara, hasil EEG baru keluar di minggu depan sementara kondisi anak saya sudah stabil, maka kami memutuskan untuk pulang dan melanjutkan rawat jalan ke dr. Herbowo sekaligus membaca hasil EEG.

Liat-liat jadwal praktek dr. Herbowo, akhirnya kami rawat jalan di Hermina Jatinegara. Hasil EEG yang diinterpretasi oleh dokter spesialis saraf dewasa, tertulis normal background namun ada spike/sharp wave di temporal posterior kanan. Menurut dr. Herbowo, gelombang spike wave di EEG anak saya tidak terlalu jelas. Pertimbangan beliau, karena pemeriksaan fisik normal dan pertumbuhan perkembangan normal jadi masih ada kemungkinan hasil EEG tersebut terjadi karena otak masih berkembang. Kita liat jika ada kejadian kejang susulan maka kita obati sebagai epilepsi, kita MRI juga untuk liat lebih jelas. Dan kita doakan semoga tidak ada kejang susulan. Sehat. Sehat pasti sehat. Terimkasih dr Herbowo yang super sabar dan detail kalau menjelaskan sesuatu kepada pasiennya. Kabarnya dr Herbowo punya moto beliau ga mau pasien dan orangtua pasien keluar ruangan praktek masih kebingungan. Buat ibuk-ibuk yang suka penjelasan detail rekomen deh dr. Herbowo. Btw dr. Herbowo ini anak dari Prof. Taslim, Sp.A (K) subspesialis saraf anak juga.

Setelah dari dr. Herbowo, saya berencana konsul ke Prof Hegar, gastro anak. Pas cek beliau praktek di RSCM, RS Premier Bintaro, dan Klinik Zamzam. Kebetulan saat saya lagi cek jadwal praktek dan kepoin cerita ibu-ibu yang konsul ke Prof Hegar eh ketemulah nama Dr. dr. Dwi Putro Widodo, Sp.A(K) sub spesialis saraf anak yang kebetulan praktek juga di RSCM dan RS Premier Bintaro. Tapi karena saya takut ke RSCM hehe jadilah kita ke Premier Bintaro, meski jauh banget dari rumah. Bekasi-Bintaro cuuyy.

Oiya, kenapa ke dr Dwi, dokter saraf anak lagi? Mau, coba second opinion. Dan ternyata hasilnya, dr Dwi pun sama kaya dr Herbowo. Jika ada kejang susulan dalam 3-6 bulan kedepan, barulah dikasih obat.Menurut dr Dwi, presentase dalam 3-6 bulan ada kejang adalah 70%. Sisanya 30% kemungkinan ga terulang lagi kejangnya. Terus saya harus apa supaya ga kejang lagi? Katanya ga ada. Beraktifitas seperti biasa saja, makan, minum, tidur, main kaya biasa. Oke baiklaahh, karena hasil konsul dengan dr Dwi sama dengan dr Herbowo, maka diputuskan untuk konsul selanjutnya kami mantap di dr Herbowo dengan alasan, dr Herbowo lebih dekat dengan rumah, lebih komunikatif dan ngejelasin banget tanpa perlu ditanya-tanya, dan yang penting dr Herbowo lebih mudah ditemui.

Selanjutnya kami ke Prof Hegar untuk konsul pencernaannya. Selain mau konsul soal GERD, kita mau konsul juga masalah alergi susu sapi dan infeksi saluran cernanya. Soalnya pupnya masih encer, sehari masih pup 4 kali lebih. Padahal antibiotik yang diberikan sudah habis.

Dari hasil konsul dengan Prof Hegar, beliau bilang GERD anak saya tidak perlu terapi obat karena berat badan dan tumbuh kembangnya baik. Untuk GERD nya, kita fokus terapi posisi. Anak saya harus selalu diposisikan kepalanya lebih tinggi dari badan. Setelah makan dan minum, diposisikan terlentang dengan sudut 40-60 derajat selama 1 jam. Selanjutnya, untuk pup yang masih encer, Prof Hegar memberikan obat racik untuk 20 hari kedepan. Dan amazingnyaa, abis minum itu, besoknya pup dia langsung bagus banget. Ya lord, keren banget. Ada yang bisa tebak harga obatnya? 22 ribu rupiah saja gaes, untuk 20 hari. Murah ya kan. Konsul ke Prof Hegar rekomen deh jika anak kalian ada masalah di pencernaan. Sebenarnya, di Bekasi ada Prof. Dr. dr. Agus Firmansyah, Sp.A(K), subspesialis gastro anak praktek di RSCM juga. Biasanya kami konsul ke beliau tapi karena sekarang pandemi covid 19, beliau ga bisa praktek karena umurnya sudah lebih dari 65 tahun, masuk usia rentan. Saya berdoa semoga pandemi ini segera berakhir supaya kalau konsul pencernaan anak-anak bisa ke Prof Agus aja hehe ga perlu jauh-jauh ke Prof Hegar di Bintaro.

Sekian ceritanya buk ibuk. Pesan saya, kalau kejadian anak kejang, jangan panik. Posisikan anak pada permukaan rata, atau miringkan supaya aliran udaranya tetap baik. Lalu, video kan saat kejadian kejangnya supaya dokter lebih mudah dalam mendiagnosa. Catat berapa lama anak mengalami kejang. Saya yakin, setiap ibu pasti mau memberikan yang terbaik untuk anaknya. Liat anak sakit pasti bawaannya ga tega. Buk, kalian ga sendiri. Peluk hangat… apapun penyakit yang dialami anak-anakmu, aku doakan cepat sembuh. Kita sebagai orangtua semoga selalu diberikan kesabaran, keikhlasan, kekuatan, dan semangat. Stay positive, stay healthy 🙏🏻

2 thoughts on “Anakku Kejang Tanpa Demam Usia 6 Bulan

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: