Cerita Menyapih dengan Cinta

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman menyapih anak saya. Yes saya menyapih dengan cinta dan dengan bantuan berbagai pihak.

Pertama, terimakasih kepada suami saya tercinta, kedua kepada babysitter saya, sus ani, dan kepada seisi rumah saya yang sudah berusaha mendukung dan memahami proses ini.

Proses menyapih bisa berjalan lancar apabila mama sudah siap secara mental, fisik, dan strategi. Kenapa mental? Karena butuh keikhlasan dari mama, biasanya mama-mama ini suka baper menjelang menyapih, teringat betapa berharga dan intimnya momen menyusui, merasa saling membutuhkan, saling memiliki, dan terasa betul betapa cintanya anak sama mama. Makanya mama mesti ikhlas dulu. Harus happy dan enjoy dalam proses menyapih ini. Sama dengan proses menyusui, menyusuilah dengan tekad yang kuat dan pantang menyerah. Menyapih juga harus dengan tekad kuat dan pantang menyerah. Semangatnya harus sama. Mama juga kudu menikmati proses ini, karena tiap anak unik, pastinya cerita menyapih dan lama proses menyapihnya tidak bisa disamakan. So enjoy ya, mam. Selanjutnya, siap fisik. Kenapa siap fisik? Karena mama kudu strong saat proses menyapih. Anak mama sudah bisa menangis kejer dan meronta kan? Udah bisa minta nenen pula hehe. Jadi lakukan proses menyapih ketika mama dan anak dalam kondisi prima dan sehat ya. Jangan dilakukan ketika anak atau mama sedang sakit. Karena banyak energi yang akan terkuras. Selanjutnya, siap strategi. Kenapa strategi? Karena anak kita sudah mengerti jadwal dan kebiasaan yang dia lakukan (re: nenen). Jadi kudu strategi agar proses ini bisa berjalan dengan mulus. Strateginya mama harus sudah punya gambaran, siapa yang bantuin mama selama proses ini, sebagai pengganti asi, mau pakai susu formula atau uht, mau dikasih pake dot, gelas, atau sedotan, mau dikasih minum susu atau tidak di sela-sela waktu tidur, aktifitas apa yang dilakukan untuk mengalihkan pikirannya dari kebiasaan nenen, dan sebagainya.

Berikut saya akan sharing pengalaman meyapih versi saya. Prosesnya dimulai saat terbesit keinginan untuk menyapih dan saya merasa waktunya sudah tepat. Selama 2 minggu saya sounding ke anak saya, “Nak, sekarang Nathania (nama anak saya), semakin besar ya, nak. Sebentar lagi kita berenti nenen ya. Minum susunya susu formula, nanti mama bikinin susunya. Minumnya pakai sedotan ya. Nanti habis minum susu, tidur ya nak. Tidur siang dan tidur malamnya yang nyenyak habis minum susu ya.”

Begitu terus saya ulang-ulang selama 2 minggu, sesering mungkin. Sounding ini perlu ya mams. Karena anak kita pintar, mereka sudah bisa mengerti apa yang kita ucapkan. Kalau bisa, ceritakan sedetail mungkin rencana menyapih yang mama siapkan untuknya. Mulai dari jenis susu, cara membuat, cara minum, dan lain sebagainya. Semakin detail semakin bagus.

Selama 2 minggu sounding ke anak rencana menyapih, sayapun sambil menyiapkan mental, fisik, dan strategi. Saya bertanya kepada teman-teman yang sudah berhasil menyapih, browsing cara menyapih, mencari tau kandungan dan keunggulan dari berbagai merk susu, lalu memantapkan hati pada satu merk susu formula, menyiapkan perlengkapan seperti straw cup, gelas biasa, dan sedotan. Saya juga menceritakan detail rencana saya kepada suami. Kemudian sounding ke orang rumah tentang rencana menyapih ini, supaya orang rumah tidak kaget ketika proses ini berlangsung, semisal anak saya nangis kejer minta nenen atau ketika dia baru beradaptasi tidur tanpa nenen, orang rumah tidak kaget dan bisa memaklumi.

Oiya saya memilih bantuan babysitter selama proses ini berlangsung. Jadi bukan saya yang menimang ketika tidur. Kenapa? Karena selama ini anak saya selalu tidur bersama saya dan selalu nenen, tidak pernah pakai dot. Jadi kalau dia liat saya, dia minta nenen dan meronta. Untuk memperlancar proses menyapih saya memutuskan minta bantuan orang lain, so kalau mams merasa butuh bantuan orang lain, jangan sungkan. Bisa minta bantuan suami, mertua, atau orangtua, atau art, dan lain-lain. Jangan lupa dibriefing dulu untuk menyatukan rencana, jangan sampai terjadi miskom. Misal mama ingin menyapih dan melanjutkan tanpa dot seperti saya, sementara mertua atau art tidak tau rencana tersebut. Besoknya si anak dikasih dot, walah keluar dari rencana. Jadi komunikasi ini penting ya mams untuk mendukung kelancaran proses menyapih.

Selama 2 minggu tersebut, saya mulai kenalkan anak saya dengan susu formula. Saya tetap menyusui asi, kemudian disela-selanya saya tawarkan susu formula. Saya memilih sedotan sebagai media minumnya. Saya tidak membiasakan anak saya minum dari dot sejak awal. Saya putuskan tidak ingin mengenalkan dot padanya. Karena pengalaman beberapa anak di keluarga saya, akan lebih susah menghentikan kebiasaan minum lewat dot dibanding berenti nenen. Tapi kembali lagi kepada keyakinan masing-masing orangtua, apapun pilihan yang mama ambil, baik dot atau tanpa dot, itulah pilihan terbaik untuk anakmu.

Awal-awal saya tawarkan susu formula, dia menolak. Selama seminggu tidak ada sedikitpun yang berhasil diteguk dari gelas ataupun dari sedotan. Sabar-sabar. Memang harus sabar. Minggu berikutnya, saya coba pakai media botol sendok. Akhirnya berhasil diteguk pelan tapi pasti. Mulailah 30 ml habis diteguk.

Botol sendok pigeon
Minum pakai botol sendok pigeon

Secercah harapan timbul. Saya coba pakai sedotan yang bisa berbunyi jika disedot. Habis 30 ml lebih cepat daripada menggunakan botol sendok. Perlahan saya tambah jumlah susunya dari 30, 60, lalu 90 ml, sampai sesuai takaran saji. Setelah saya merasa dia siap memulai harinya tanpa nenen (diganti susu formula), akhirnya saya putuskan mulai menyapih secara official. Bye bye nenen.

Sedotan bunyi sip and sound straw
Sedotan bisa berbunyi yang anak saya pakai

Senin, 25 Maret 2019 adalah hari bersejarah dalam proses menyapih anak saya. Tekad saya, “sekali tidak nenen, tetap tidak nenen.”

Saya mulai di siang hari, ketika anak sudah kenyang makan siang, dilanjutkan minum susu, kemudian untuk mengalihkan pikiran dari nenen, saya ajak dia bermain sampai kelihatan dia capek dan mengantuk, setelah ada tanda-tanda mengucek mata dan ngantuk, saya ajak dia muter-muter di dalam rumah menggunakan stroller sambil saya nyanyikan “twinkle twinkle”. Yes dalam beberapa menit anak saya tidur siang bablas tanpa nenen dan tanpa drama. Yey suatu pencapaian di hari itu.

Pertama kali tidur siang tanpa nenen

Malamnya saya lanjutkan, tekad masih sama, “sekali tidak nenen, tetap tidak nenen.” Setelah makan malam, dilanjutkan ganti baju tidur, ganti popok, dan minum susu. Main sebentar lalu saya keluar kamar. Tinggallah anak saya dan susternya di kamar. Lampu dimatikan. Saya menunggu di ruang tengah, duduk manis sambil harap-harap cemas. Tidak..tidak.. saya tidak boleh cemas. Akhirnya saya usir rasa cemas itu, saya harus berusaha santai. Takutnya, energi cemas saya, bisa terasa oleh anak. Jadilah saya berusaha sesantai mungkin, inhale exhale, ini adalah proses yang harus dilalui.

Eng..ing..eeenggg, terdengar suara tangis keras. Saya cuma bisa berdoa, ya Tuhan, tolong bantu anak saya melalui ini. Semoga dia bisa tidur nyenyak tanpa nenen. Itu aja saya ulang-ulang terus.

Akhirnya suara tangisnya berenti, kurang lebih 10-15 menit dia menangis. Kemudian suaranya melemah dan berenti. Senyap, tidak terdengar suara apapun dari kamar. Saya lega. Tidak lama, susternya whatsap saya, “Bu sudah tidur.”

Wow masa sih udah tidur. Cepet juga ya. Saya bayangin dia berjam-jam menangis. Ternyata anak saya bisa :’) terharu dan senang campur aduk.

Besoknya masih sama, saya terapkan cara yang sama di hari kedua. Baru di hari kelima, anak saya sudah tidak minta nenen. Sama sekali tidak pernah terucap “nenen” dari bibir imutnya.

Sekarang dia bisa melalui harinya tanpa nenen dan bisa tidur tanpa nenen. Hebat. Saya salut, anak saya bisa lepas dari salah satu zona nyamannya. Sekarang dia sudah kembali tidur bersama saya, cukup saya nyanyikan lagu “twinkle twinkle” sambil saya usap punggungnya, dia bisa tertidur pulas. Sekarang tidurnya lebih nyenyak, tidak grasa-grusu dikit-dikit minta nenen di malam hari. Sekarang makannya lebih banyak dan porsinya lebih konsisten, ga cepet kenyang. Sekarang jam 1 dan jam 5 subuh dia bangun sambil bilang, “minum”, artinya dia minta minum susu. Saya pangku dia, lalu dia minum dari sedotan. Setelah susunya habis, diapun langsung tertidur kembali. Selamat ya Nathania, kamu sudah berhasil melalui satu diantara proses kehidupan yang harus kamu lalui. Selamat sudah berhasil menyapih.

Semoga cerita menyapihku bisa berguna untuk kalian. Selamat menyapih, semoga berjalan lancar dan sesuai harapan mamas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s